Showing posts with label Nanda Sulistiyo. Show all posts
Showing posts with label Nanda Sulistiyo. Show all posts

Thursday, November 5, 2015

Peran Olahraga dalam Pembentukan Karakter

Nanda Sulistiyo,M.Or.

Abstrak: Peran Olahraga dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Olahraga merupakan instrumen penting dalam pembentukan karakter bangsa. Melalui olahraga dapat terbentuk perkembangan karakter positif. Karakter dapat terbentuk dalam olahraga melalui peran atlet dan pelatih. Terbentuknya karakter berdasarkan pilar olahraga yaitu olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi. Sehingga dua jenis nilai karakter yang ada dan jelas terlihat dalam aktivitas olahraga yaitu nilai sosial dan moral. Khas nilai karakter sosial meliputi loyalitas, dedikasi, pengorbanan, kerja tim, dan kewarganegaraan yang baik. Sementara nilai-nilai moral yang meliputi kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.

Kata kunci: Olahraga, karakter, sosial, moral

PENDAHULUAN
Perkembangan olahraga di Indonesia dalam perspektif sejarah merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Olahraga bangsa Indonesia dipengaruhi oleh negara-negara Eropa, seperti bangsa Belanda, Jerman, Swedia, dan Austria. Karena itu pula sistem olahraga Jerman, Swedia, dan Austria mempengaruhi perkembangan olahraga di Indonesia (Husdarta, 2010).
Gerakan olahraga nasional mengalami babak baru bersamaan dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Pengajaran, mempropagandakan penyelenggaraan latihan-latihan dan rehabilitasi fisik dan mental yang telah rusak selama penjajahan kolonia Belanda dan Jepang (Husdarta, 2010: 20). Masyarakat Indonesia mengakui bahwa dalam hidup tidak hanya mengalami pengaruh pikiran dan kemampuan manusia individu saja. Olahraga memberi kesempatan yang sangat baik untuk menyalurkan tenaga dengan jalan yang baik di dalam lingkungan persaudaraan dan persahabatan untuk persatuan yang sehat dan suasana yang akrab dan gembira.
Sejalan dengan perkembangan olahraga di Indonesia, untuk dapat mencapai pemahaman dan prestasi yang optimal perlu adanya dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dalam olahraga, teknologi bukan berarti identik dengan pemakaian mesin, tetapi pencapaian hasil yang lebih baik melalui penerapan pengetahuan ilmiah (Rusli Lutan, dkk. 1991). Pengetahuan yang sistematis dan terorganisir tentang fenomena olahraga yang dibangun melalui sebuah sistem penelitian ilmiah yang diperoleh dari medan-medan penyelidikan, akan sangat berperan penting dalam perkembangan olahraga di Indonesia.
Perkembangan olahraga di Indonesia merupakan bagian dari pendidikan. Melalui dunia pendidikan ini olahraga akan membentuk mental dan karakter bangsa. Seiring dengan semboyan yang melekat dalam dunia olahraga yaitu Men Sana in Corpora Sanno. Melalui semboyan di atas tidak hanya semboyan saja yang menjadi nama, akan tetapi benar-benar dapat terwujud tubuh yang kuat dan terdapat jiwa yang sehat. Pepatah tersebut sangat jelas menggambarkan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup baik secara lahir dan batin sehat bugar sangat dibutuhkan. Maka dari itu olahraga memang layak untuk menjadi pilar keselarasan dan keseimbangan hidup sehat dan harmonis.
Olahraga bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkam nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkokoh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa. Peran olahraga sangat penting dan strategis dalam konteks pengembangan kualitas sumber daya manusia yang sehat, mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki sifat kompetitif yang tinggi. Selain itu juga penting dalam pengembangan identitas, nasionalisme, dan kemandirian bangsa. Olahraga yang dikelola secara profesional akan mampu mengangkat martabat bangsa dalam dunia internasional. Melalui olahraga ini merupakan pilar penting dalam pembentukan karakter bangsa. Olahraga dapat membangun jiwa fair play, sportivitas, team work, dan nasionalisme. Melalui olahraga inilah dapat diambil nilai-nilai karakter positif yang dapat melatih sikap dan mental kita.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi literatur dengan mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Referensi teori yang diperoleh dengan jalan penelitian studi literatur dijadikan sebagai fondasi dasar dan alat utama bagi praktek penelitian ditengah lapangan.
PEMBAHASAN
Karakter
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu, oleh karena itu apabila pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Karakter didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dandapat disebut dengan kebiasaan. Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran, karena di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya dan merupakan pelopor segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya. Program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam dan hasil dari perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, apabila program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan.
Dari hal di atas dapat di kaji bahwa pikiran harus mendapatkan perhatian serius, dengan memahami cara kerja pikiran, seseorang akan memahami bahwa pengendalian pikiran menjadi sangat penting. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan pikiran ke arah kebaikan, maka seseorang juga akan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu kebahagiaan. Sebaliknya, jika pikiran seseorang lepas kendali sehingga terfokus kepada keburukan dan kejahatan, maka akan terus mendapatkan penderitaan-penderitaan yang disadari maupun tidak. Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasan, dan karakter unik dari masing-masing individu. Setiap individu akhirnya memiliki sistem kepercayaan (belief system), citra diri (self-image), dan kebiasaan (habit) yang unik. Apabila sistem kepercayaannya benar dan selaras, karakternya baik, dan konsep dirinya bagus, maka kehidupannya akan terus baik dan semakin membahagiakan. Sebaliknya, apabila sistem kepercayaannya tidak selaras, karakternya tidak baik, dan konsep dirinya buruk, maka kehidupannya akan dipenuhi banyak permasalahan dan penderitaan.
Karakter dalam olahraga merujuk pada sebuah kesatuan karakteristik yang dapat dikembangkan dalam olahraga (pada umumnya mengandung nilai-nilai moral bahwa kita semua menginginkan para atlet untuk mengembangkan karakter yang baik dalam olahraga). Karakter dapat dilihat sebagai sebuah konsep menyeluruh yang memadukan antara fair play dan perilaku positif dalam olahraga dengan dua nilai penting lain yaitu perasaan dan integritas, oleh karena itu karakter dalam olahraga menggabungkan empat nilai yang saling terkait: perasaan, keadilan, perilaku sportif dalam olahraga, dan integritas. Perasaan dalam hal ini berkaitan dengan empati, yaitu sebuah kemampuan untuk memahami dan menghargai perasaan orang lain. Pada saat seseorang menggunakan perasaan kepada orang lain, maka akan berusaha untuk memahami sudut pandang atau pendapat-pendapat orang lain. Integritas adalah kemampuan untuk mempertahankan moral dan keadilan seseorang berdampingan dengan keyakinan bahwa seseorang akan bisa memenuhi tujuan moral seseorang. Pada intinya, hal tersebut merupakan kesadaran moral seorang atlet atau pelatih dan merupakan sebuah keyakinan bahwa seseorang akan melakukan hal yang benar dan baik saat dihadapkan dengan sebuah dilema moral.
Pembangunan karakter adalah usaha paling penting yang pernah diberikan kepada manusia. Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari sistem pendidikan yang benar. Pembinaan watak merupakan tugas utama pendidikan, menyusun harga diri yang kukuh-kuat, pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, mempunyai kehormatan diri. Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 mengamanatkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ada beberapa karakter manusia menurut motivasinya:
Achievement Motivation
Popularity Motivation
Power Motivation
Strategi Membentuk Karakter
Menumbuhkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa perlu menggunakan strategi sehingga terbentuk karakter yang idealis. Karakter dapat dibangun melalui atlet sendiri dan pelatih. Adapaun strategi membentuk karakter untuk atlet (Adopted from Mango, 2011; Heart of Illinois Conference, 2007).
Penekanan yang tinggi pada karakter
Harapan yang tinggi dari perilaku
Memberikan contoh yang baik
Sportif merupakan suatu keharusan
Akuntabilitas
Pendekatan yang menyeluruh
Menghormati sebuah permainan
Menghormati official
Membuat aktif dalam berbuat dan berkomunikasi
Praktek mengontrol diri
Strategies for Coaches (adopted from Clifford & Feezell, 2009; Lumpkin & Stokowski, 2011)
Menjadi contoh yang baik
Selalu membicarakan tentang masalah apapun
Teratur dalam menggunakan bahasa
Menjunjung sportivitas dalam praktek dan permaianan
Memperkuat sportivitas
Selalu menekankan atlet untuk berpartisipasi dalam latihan dan membuat senang
Menekankah bahwa tujuan latihan menguasai keterampilan olahraga yang digunakan sebagai pelajaran hidup
Membantu setiap atlet mengembangkan dan mencapai semua potensi yang dimiliki.
Mengikuti aturan terbaru dan memperkuat perilaku fairplay dan sportif setiap waktu
Mengajarkan bagaimana belajar dari sebuah kegagalan dan kesuksesan
Sedangkan menurut Stefan Sikone (2006), dalam melaksanakan pembentukan karakter, generasi muda memiliki 3 peran penting yaitu:
Sebagai pembangun kembali karakter bangsa (charater builder)
Sebagai pemberdaya karakter (character enabler)
Sebagai perekayasa karakter (character engineer)
Perkembangan Olahraga
Olahraga secara harfiah berarti sesuatu yang berhubungan dengan mengolah raga atau dapat dikatakan mengolah fisik. Dari sudut pandang ilmu faal olahraga, olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk meningkatan kemampuan fungsionalnya, sesuai dengan tujuannnya melakukan olahraga (Santosa, 2005). olahraga merupakan serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu (Giriwijoyo, 2005).
Ciri utama dalam kegiatan olahraga adalah orentasi fisikal dalam konteks ini seperti aspek motorik, daya tahan, kecepatan, kekuatan dan ketrampilan yang merupakan unsur intern dari kegiatan olahraga misalnya, Wiss, Beirat Deutschen Sportbundes 1985, Mejer 1981 (dalam Husdarta 2010), karena itu kegiatan olahraga itu, selalu menampakan diri dalam wujud nyata kehadiran fisik, peragaan diri secara sadar dan bertujuan, disertai dengan pengunaan alat-alat kongkrit, seperti bola, raket dan lain-lain.
Olahraga  adalah proses pengolahan tubuh dengan gerakan yang sistematis untuk mendorong, membina serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial. Olahraga dapat digolongkan dalam beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
Olahraga pendidikan
Olahraga prestasi
Olahraga rekreasi
Olahraga amatir
Olahraga professional
Olahraga penyandang cacat
Berdasarkan UU No.3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), olahraga dibagi menjadi tiga pilar, yaitu Olahraga Pendidikan, Olahraga Prestasi, dan Olahraga Rekreasi.
Olahraga Pendidikan (Education Sport)
Olahraga Rekreasi (Sport for All)
Olahraga Prestasi (Competitive Sport)
Olahraga dan Karakter
Melalui pencapaian prestasi yang diraih merupakan salah satu perwujudan dari pilar olahraga prestasi. Bahwa pilar keolahragaan nasional terdiri dari tiga pilar yaitu olahraga pendidikan, olahraga prestasi, dan olahraga rekreasi. Melalui ketiga pilar tersebut pembentukan karakter dapat berjalan. United Nations (suatu organisasi non-pemerintah terakreditasi (LSM) di PBB) (2003) juga menyatakan bahwa olahraga merupakan instrumen yang efektif untuk mendidik kaum muda terutama dalam nilai-nilai.
Menurut United Nations sejumlah nilai yang ada dan dapat dipelajari melalui aktivitas olahraga meliputi: cooperation (kerjasama), communication (komunikasi), respect for the rules (menghargai peraturan), problem-solving (memecahkan masalah), understanding (pengertian), connection with others (menjalin hubungan dengan orang lain), leadership (kepemimpinan), respect for others (menghargai orang lain), value of effort (kerja keras), how to win (strategi untuk menang), how to lose (strategi jika kalah), how to manage competition (cara mengatur pertandingan), fairplay (bermain jujur), sharing (berbagi), self-esteem (penghargaan diri), trust (kepercayaan), honesty (kejujuran), self-respect (menghargai diri sendiri), tolerance (toleransi), resilience (kegembiraan dan keuletan), team-work (kerjasama sekelompok), discipline (disiplin) dan confident (percaya diri).
Karakter merupakan sebuah konsep moral yang tersusun dari sejumlah karakteristik yang dapat dibentuk melalui aktivitas olahraga. Setidaknya terdapat nilai-nilai karakter positif yang dapat terbentuk melalui olahraga, antara lain: rasa kasih sayang, (compassion), keadilan (fairness), sikap sportif (sport-personship), dan integritas (integrity) (Weinberg dan Gould, 2007). Menurut Lumpkin, Stoll & Beller (Beller & Jennifer, 2002: 2)  dalam journal positive character development in school sport programs menyatakan: Two different types of character values exist and are evident in sport: social and moral. Typical social character values include loyalty, dedication, sacrifice, teamwork, and good citizenship (Lumpkin, Stoll & Beller, 2002), while moral values include honesty, fairness, fair play, justice, and responsibility. Social values, which are highly esteemed in our society, are about the real world and how society views the importance of social character. Moral values are first principles, meaning that they stand by themselves; if we violate any one of these, we violate people directly. Social values are positive assets but must be tempered by moral values. A person who has strong social character may have little or no moral character. An individual can be highly dedicated and loyal to an immoral cause. Because sport may foster social values, character development through sport should help athletes learn to weigh a social value against a moral value and then act on that moral value.
Ada dua jenis nilai karakter yang ada dan jelas terlihat dalam aktivitas olahraga yaitu nilai sosial dan moral. Khas nilai karakter sosial meliputi loyalitas, dedikasi, pengorbanan, kerja tim, dan kewarganegaraan yang baik. Sementara nilai-nilai moral yang meliputi kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai sosial merupakan aset positif tetapi harus selaras dengan nilai-nilai moral. Seseorang yang memiliki karakter sosial yang kuat mungkin memiliki karakter moral sedikit atau tidak ada. Karena olahraga dapat menumbuhkan nilai-nilai sosial, pengembangan karakter melalui olahraga harus membantu atlet untuk  belajar menimbang nilai sosial terhadap nilai moral dan kemudian bertindak pada  nilai moral.
Kesimpulan
Partisipasi dalam olahraga tidak secara otomatis mempunyai efek positif terhadap pembentukan karakter. Pengalaman yang diperoleh melalui olahraga dapat membentuk karakter, tetapi hal ini hanya dapat terjadi apabila lingkungan olahraga diciptakan dan ditujukan untuk mengembangkan karakter. Olahraga dapat membentuk karakter positif hanya jika kondisi-kondisi yang menyokong ke arah positif dipenuhi, misalnya kepemimpinan dan perilaku pelatih yang baik. Dukungan dari pelatih, orang tua, penonton, administrator, maupun dari pemain sendiri sangat dibutuhkan untuk memperoleh manfaat positif dari partisipasi olahraga.
Olahraga mengandung dimensi nilai dan perilaku sportif yang terbukti faktanya. Pertama, sikap sportif, kejujuran, menghargai teman dan saling mendukung, membantu dan penuh semangat kompetitif. Kedua, sikap kerja sama team, saling percaya, berbagi, saling ketergantungan, dan kecakapan membuat keputusan bertindak. Ketiga, sikap dan watak yang senantiasa optimistis, antusias, partisipasif, gembira, dan humoris. Keempat, pengembangan individu yang kreatif, penuh inisiatif, kepemimpinan, kerja keras, kepercayaan diri, dan kepuasan diri. Keunggulan pendidikan olahraga dalam pembentukan karakter terletak pada perlengkapan nilai-nilai ke dalam perilaku. Ada dua jenis nilai karakter yang ada dan jelas terlihat dalam aktivitas olahraga yaitu nilai sosial dan moral.
Olahraga merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter bangsa. Langkah awal pembentukan karakter ini dimulai dari usia dini dan dilandasi dengan budaya nasional juga dibentuk dengan olahraga yang dilakukan. Maka dari itu, Indonesia dapat disegani di dunia salah satunya dengan membangun karakter bangsa melalui olahraga. Dengan berolahraga, banyak karakter positif yang terbentuk. Mulai dari atlet, pelatih dan masyarakat pelaku olahraga akan memiliki rasa tanggungjawab, rasa hormat, dan memiliki kepedulaian dengan sesama. Nilai Ketekunan, kejujuran, dan keberanian juga diperolah dari aktivitas olahraga. Dengan demikian, karakter yang sudah terbentuk memalui olahraga ini menjadikan icon bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki karakter yang kuat.
REFERENSI
Giriwijoyo, S. (2005). Manusia dan olahraga. Bandung: ITB.
Husdarta. (2010). Sejarah dan filsafat olahraga. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Lumpkin, A. (2009). Modern sports ethics: A reference handbook. Santa Barbara, CA: ABC-CLIO.

Lumpkin, A., & Stokowski, S. (2011). Inter scholastic sports: a character building privilege. Kappa Delta Pi Record, pp. 124-128.

Lumpkin, Stoll & Beller. (2002). Sport ethics: Applications for fair play. St. Louis: Mc-Graw Hill.

Lutan, Rusli, dkk. (1991). Manusia dan olahraga. Bandung: ITB.
Mango, K. (Feb, 2011). Building character through sports. Online: Web plays Mom.

Menpora. 2005. Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Omar-Fauzee, M.S. etc. (2012). The strategies for character building through sports participation. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, Vol. 2, No. 3, pp. 48-58.

Sumaryanto.(2008). Upaya pembentukan karakter melalui olahraga. Proceeding Seminar Olahraga Nasional: FIK UNY-Kemenpora RI.

Weinberg, Robert S.; Gould, Daniel, (2007). Foundation of sport and exercise psychology. 4th edition. Champaign, II.: Human Kinestics Publishers, Inc.

Friday, May 22, 2015

Perkembangan Industri Olahraga Tempat Wisata dan Rekreasi di Kabupaten Kulon Progo

Oleh:
Nanda Sulistiyo, S.Pd.



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Industri olahraga merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan ekonomi suatau negara. Di berbagai negara industri maju dan modern seperti di Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Korea dan China, olahraga telah menjadi industri unggulan sebagai pemasok devisa negara. Selain itu olahraga juga dirancang sebagai industri modern berskala global. Dalam membangun karakter bangsa, olahraga sudah menjadi identitas industri yang memiliki nilai tambah yang signifikan. Di Indonesia perkembangan industri olahraga masih memerlukan peran serta dari masyarakat dalam mewujudkan olahraga yang berprestasi dengan dukungan industri olahraga dalam negeri.
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga melalui Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga sebagai lembaga pengembang industri olahraga di Indonesia telah mencanangkan suatu gagasan untuk mengembangkan industri olahraga sebagai industri kreatif yang berdaya saing tinggi dalam percaturan globalisasi. Langkah-langkah koordinasi dengan berbagai stakeholder telah ditempuh, kini Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga melalui Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga mencoba melangkah lebih jauh dalam rangka mengembangkan industri olahraga di Indonesia. Salah satu langkah penting yang sangat mendesak untuk diimplementasikan adalah melakukan identifikasi dan pembinaan sentra-sentra industri olahraga yang telah ada dan mengembangkan berbagai pusat peralatan olahraga yang dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah.
Olahraga di negeri tercinta masih tersendat-sendat dalam prestasi. Hal ini diyakini karena kurangnya fasilitas dan program pendidikan yang baik. Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia khususnya Bidang Pengembangan Industri Olahraga melihatnya, Indonesia sudah harus melakukan industrialisasi olahraga sebagai salah satu cara menanggulangi masalah tersebut. Sekaligus, ketertarikan negara-negara barat dan Amerika Serikat untuk berinvestasi dalam bidang olahraga di Asia merupakan moment tepat untuk mengembangkan industrialisasi olahraga (Ibnu, 2011: 1).
Melalui industrialisasi olahraga maka, fasilitas-fasilitas dan event-event olahraga akan meningkat sehingga kualitas atlet juga terasah. Peningkatan ini didapat dari investor-investor olahraga. Dalam penjelasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, (2008: 30-31) telah diuraikan bahwa Usaha Mikro, Kecil dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Namun demikian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah masih menghadapai berbagai hambatan dan kendala, terutama dalam hal produksi dan pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.
Kendala dan hambatan tersebut tentu saja juga dirasakan pada pelaku usaha industri olahraga, yang pada umumnya ”bermain” disegmen usaha mikro. Kemajuan industri mikro olahraga memiliki nilai strategis karena terkait dengan upaya pemberdayaan ekonomi rakyat kecil dan merupakan bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. Iklim usaha yang kondusif di sektor industri olahraga juga menjadi indikator bahwa pembangunan olahraga sebenarnya memiliki dampak pengiring yang sangat luas. Dampak tersebut tidak sekadar dibatasi pada komunitas olahraga, tetapi juga pada masyarakat secara luas, terkait dengan persoalan kesejahteraan sosial.
Pengembangan industri olahraga, khususnya pariwisata olahraga perlu mendapat perhatian yang serius agar mampu menciptakan suatu masyarakat yang maju dan lebih bersifat transformatif yaitu masyarakat maju baik secara struktual maupun kultrual. Dimensi structural tercermin pada upaya mengubah masyarakat yang dulu bersifat agraris menjadi masyarakat industri yang ditopang pada dua kekuatan pokok yaitu industri yang kuat didukung oleh pertanian yang tangguh mencakup penguasaan teknologi serta mempunyai daya saing yang kuat dalam memasuki pasaran global. Sedangkan dimensi kultural tercermin pada nilai-nilai baru yang berkembang dan sangat bermanfaat dalam menopang terbentuknya suatu masyarakat industri olahraga yaitu menyangkut sikap, tingkah laku rasional masyarakat, sadar kesehatan, dan kompetitif (Farida M., 2011: 2)
Managemen olahraga yang belum optimal khususnya di tempat wisata di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta, mulai dari koordinasi sampai teknis di lapangan merupakan salah satu pemicu lemahnya daya tarik pengunjung untuk melakukan kunjungan ke objek-objek wisata di kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Selain lemahnya managemen olahraga faktor lain yang juga turut mempengaruhi lemahnya daya kunjung wisatawan baik domestik maupun manca adalah pengemasan atau pemasaran dari objek-objek wisata yang ada di kawasan kabupaten Kulon Progo tersebut. Kelemahan tersebut selain dipengaruhi oleh faktor intern dari pihak pemerintah dan masyarakat kulon progo, namun juga faktor ekternal, dimana letak geografis dan juga fasilitas keterjangkauan dari kabupaten kulon progo yang cukup sulit untuk dijangkau. Sehingga pembangunan infrastruktur seperti bandara yang akan segera direalisasikan akan sangat membantu dari pengembangan akses ke kawasan wisata di kabupaten kulon progo.
Sedangkan apabila dilihat dari segi potensi tempat wisata di daerah kulon progo sangatlah mendukung, ada beberapa objek wisata baik yang berupa laut, pegunungan, gua dan waduk, dll. Dari banyaknya objek wisata yang dimiliki oleh kabupaten tersebut tentunya masyarakat Kulon Progo berharap banyak dapat mengoptimalkan dengan maksimal sumber daya yang ada dalam rangka memperoleh keuntungan baik materi maupun kepuasan.
Apabila managemen olahraga pada objek wisata di kabupaten kulon progo, diharapkan pendapatan daerah dan juga masyarakat kulon progo akan terangkat perekonomiannya, dan juga pengembangan olahraga di kabupaten kulon progo akan meningkat. Berdasarkan hal tersebut pemakalah ingin membahas masalah-masalah dan contoh-contoh managemen olahraga yang bisa dijadikan alternatif untuk mengoptimalkan tujuan dan fungsi sumber daya alam yang ada di kabupaen kulon progo.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Industri Olahraga
Menurut Pitts; Fielding, and Miller (1994) industri olahraga adalah “setiap produk, barang, servis, tempat, orang-orang dengan pemikiran yang ditawarkan pada publik berkaitan dengan olahraga. Dikutip dari pernyataan Nuryadi (2010: 10); Sport Industry adalah sebuah industri yang menciptakan nilai tambah dengan memproduksi dan menyediakan olahraga yang berkaitan dengan peralatan dan layanan. Sport marketing adalah penerapan spesifik prinsip dan proses pemasaran kepada produk olahraga dan untuk memasarkan produk nirlaba olahraga melalui asosiasi dengan olahraga.
Jika kita mengamati profil usaha industri olahraga di Indonesia, mereka dalam operasionalnya menghadapi masalah pokok:
1.      Masalah permodalan. Untuk masalah modal para pengusaha dalam menjalankan usahanya belum mengenal dan memanfaatkan lembaga perbankan. Selain itu para pengusaha industri olahraga (kecil) sulit untuk memperoleh kredit dari bank swasta.
2.      Lemah dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Umumnya usaha industri olahraga memperoleh pasar dengan cara-cara pasif. Mereka mengandalkan kekuatan promosi personel selling yaitu komunikasi antar personal.
3.      Keterbatasan pemanfaatan dan penguasaan teknologi. Hal ini disebabkan karena lemahnya sumber daya manusia dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi.
4.      Masalah strategi pemasaran produk merupakan salah satu kendala besar bagi industri olahraga yang kecil untuk masuk pasar bebas. Seringkali pemasaran produk industri olahraga kecil harus melalui mata rantai.
5.      Lemah dalam jaringan usaha dan kerja sama usaha.
6.      Kelemahan dalam mentalitas usaha dan kewirausahaan. Umumnya industri olahraga yang masih kecil sedikit sekali yang memiliki kreatifitas dan inovasi, kemandirian dan semangat untuk maju.
Kondisi industri olahraga yang masih kecil sebagaimana disebutkan di atas tentu saja sangat bertentangan dengan tuntutan arus pasar bebas. Pasar bebas menuntut bisnis olahraga sekalipun kecil haruslah tangguh, mandiri, dinamis, efisien, dan mampu membeikan produk yang berkualitas dan pelayanan yang memuaskan. Untuk memperbaiki profil industri olahraga Indonesia dengan berbagai masalah dan kelemahannya tersebut maka sangat dibutuhkan proses pemberdayaan usaha industri olahraga. Pemberdayaan tersebut haruslah menyentuh langsung pada keenam kelemahan di atas.
1.       Pola Pengembangan Industri Olahraga
Sebelum kita beranjak membicarakan tentang hal tersebut diatas, ada baiknya kita cermati tiga pola yang berkaitan dengan tumbuh kernbangnya industri olahraga dibawah ini: a) di Indonesia terdapat adanya potensi pelaku olahraga dan berbagai ruang lingkup/dimensi keolahragaan yang besar. Ini merupakan salah satu keberhasilan program pemerintah untuk memasyarakatkan olahraga, b) terdapat tiga areal sellor bidang garapan yaitu olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi, dan c) Besarnya peluang tumbuh kembangnya industri di bidang olahraga. Dari ketiga area bidang garapan tersebut diatas, maka industri olahraga dapat menembus di berbagai segmen pasar.
Di samping memilih dan melakukan berbagai pendekatan untuk kesuksesan dalam bisnis olahraga, kiranya juga perlu dibangun sebuah komunikasi yang baik dengan berbagai pihak. Dengan komunikasi mampu memecahkan adanya sebuah konflik, sehingga akan didapatkan konsep solusi yang lebih berkualitas, meskipun akan ada sebuah perubahan, namun perubahan tersebut mengarah ke yang lebih baik serta memberi dampak kepada kemajuan bersama. Industri olahraga memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Perhatian terus-menerus pada bisnis.
b.      Merupakan bagian atau cabang bisnis.
c.       Sesuatu yang mempekerjakan banyak tenaga kerja dan modal, yang merupakan kegiatan yang nyata dari perdagangan (Webs1er’s New Collegiate Dictionary)
Segmen industri olahraga sesuai dengan tipe produknya rnenurut Parks, Zanger and Ouarterman,(1998) terdapat tiga segment yaitu:
a.       Sport performance / penampilan olahraga, Segmen ini bermacam - macam produk. seperti olahraga sekolah, perkumpulan kebugaran, camp olahraga, olahraga professional, dan taman olahraga kota.
b.      Sport Production / produksi olahraga, Segmen produksi olahraga ini dapat diberikan contoh seperti bola basket, bola tennis, sepatu olahraga, kolam renang, serta perlengkapan olahraga lainnya,
c.       Sport Promotion / Promosi Olahraga. Segmen ini dapat berupa barang dagangan seperti kaos, atau baju yang berlogo, media cetak dan elektronika, sport marketing, agency, sport event organizer.
2.       Penguatan Sistem Pembangunan Keolahragaan
a.       Pembangunan olahraga diarahkan:
1)      Mengembangkan kebijakan dan manajemen penyusunan dan perencanaan program olahraga dalam upaya mewujudkan penataan sistem pembinaan dan pengembangan olahraga secara terpadu dan berkelanjutan;
2)      Meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat secara lebih luas dan merata untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani serta membentuk watak bangsa, sekaligus membangun konsepsi budaya olahraga di kalangan masyarakat ;
3)      Meningkatkan sarana dan prasarana olahraga yang sudah tersedia untuk mendukung pembinaan olahraga;
4)      Meningkatkan upaya pembibitan dan pengembangan prestasi olahraga secara sistematik, berjenjang dan berkelanjutan;
5)      Meningkatkan pola kemitraan dan kewirausahaan dalam upaya menggali potensi ekonomi olahraga melalui pengembangan industri olahraga;
6)      Mengembangkan sistem penghargaan dan meningkatkan kesejahteraan atlet, pelatih, dan tenaga keolahragaan.
b.      Tujuan program penguatan sistem pembangunan keolahragaan untuk mewujudkan keserasian berbagai kebijakan keolahragaan. Kegiatan pokok yang dilakukan :
1)      Pemetaan dan pendataan potensi Keolahragaan Kabupaten/kota se Indonesia;
2)      Pengkajian kebijakan-kebijakan pembangunan di bidang Olahraga;
3)      Pengembangan kemitraan pemerintah dengan masyarakat dalam pembangunan keolahragaan;
4)      Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan olahraga.
3.       Strategi Pengembangan Industri Olahraga
Didalam pembangunan industri olahraga di Indonesia perlu kiranya re-orientasi program, beberapa hal tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Pengembangan budaya olahraga
Budaya olahraga merupakan landasan nasional. Budaya olahraga merupakan sikap dan kebiasaan masyarakat untuk senang berolahraga dan menjadikan olahraga sebagai gaya hidup sehat. Pengembangan budaya olahraga ini dapat dimulai dari lingkup individu dan keluarga dengan cara memberikan apresiasi terhadap makna dan manfaat olahraga bagi peningkatan kesehatan dan kualitas hidup.
b.      Persaingan olahraga regional dan internasional
Prestasi olahraga nasional terus merosot di tingkat regional dan internasional. Kondisi ini disebabkan lemahnya daya saing olahraga nasional dibandingkan dengan negara-negara lain. Kebangkitan kekuatan baru dalam olahraga, baik di tingkat ASEAN, Asia, maupun dunia sangat berpengaruh terhadap posisi kekuatan olahraga Indonesia. Perkembangan olahraga di Thailand, Malaysia, China, dan beberapa negara pecahan Uni Soviet merupakan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi keputusan pembinaan olahraga pada umumnya di Indonesia.
c.       Manajemen olahraga nasional
Pendekatan integratif dalam penetapan kebijakan yang memungkinkan pembinaan dan pengembangan olahraga nasional secara harmonis, terpadu dan jangka panjang yang didukung dengan sistem pendanaan dengan prinsip kecukupan dan keberkelanjutan merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan olahraga.
d.      Sarana prasarana olahraga serta penerapan riset dan Iptek
Penerapan Iptek dalam pembinaan olahraga baik untuk meningkatan mutu proses belajar-mengajar maupun pelatihan merupakan sebuah keniscayaan. Mutu proses menjamin tercapainya hasil belajar dan prestasi olahraga yang ditargetkan. Sulit dibayangkan pencapaian hasil belajar atau prestasi tinggi tanpa pemanfaatan Iptek. Tersedianya dukungan Iptek termasuk sarana laboratorium pengajaran dan pelatihan olahraga sangat diperlukan dalam upaya peningkatan prestasi. Sebagai contoh, keberhasilan prestasi olahraga negara lain seperti Australia dan China diantaranya karena persoalan ini.
e.       Sinkronisasi program antara; pemerintah, masyarakat, dan Swasta
Kebijakan-kebijakan olahraga yang diambil oleh Pemerintah sangat diperlukan dan masih dominan untuk kelancaran proses di lapangan, seperti subsidi pembiayaan olahraga. Pihak masyarakat dan swasta sebagai pelaksana di lapangan, akan berlindung di balik kebijakan yang diputuskan pemerintah, sehingga dalam pelaksanaannya, pihak masyarakat atau swasta dapat berkerja tenang dan aman. Pihak ketiga pasar atau market, berkewajiban untuk memasyarakatkan atau mepopulerkan olahraga di masyarakat, agar sektor olahraga tidak hanya sebagai sector nonprofit tetapi juga profit dan dapat dijual ke masyarakat.

f.       Peran Perbankan Dalam Pengembangan Industri Olahraga
Dalam hal pembinaan, perbankan sebenarnya turut dapat berperan beberapa di antaranya memiliki klub olahraga sendiri. Contohnya Bank BNI dan Bank Sumsel di cabang bola voli, serta aktif mengikuti kompetisi dan merekrut atlet-atlet berbakat. Sangat diharapkan, perbankan tidak hanya berperan sebagai sponsor event atau suatu klub yang biasanya dimaksudkan juga sebagai upaya promosi, tetapi bisa masuk lagi lebih dalam.
4.       Olahraga Sebagai Even Pariwisata
Gelaran even pariwisata menjadi bagian integral dan utama dari pengembangan pariwisata dan strategi pemasaran. Even pariwisata dapat digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial dan ini bisa diartikan sebagai “pembangunan sistematis, perencanaan, pemasaran dan menjadi kilas balik sejarah masa lalu”. Tujuan dari even pariwisata dapat berupa:
a.       Untuk menciptakan citra yang menguntungkan bagi tujuan wisata pada daerah atau negara yang dituju.
b.      Untuk memperluas informasi budaya dan tradisi lokal.
c.       Untuk menyebarkan permintaan wisata yang lebih merata disuatu daerah.
d.      Untuk menarik pengunjung asing dan domestik.
Even dapat menjadi saluran yang paling umum di mana pengunjung memenuhi keinginan mereka untuk mencicipi makanan lokal dan tradisi, berpartisipasi dalam permainan, atau akan dihibur. Even lokal dan regional dapat memiliki keuntungan tambahan agar menjaga pasar pariwisata domestik aktif (Getz, 1991: 67). Even wisatawan atau pengunjung dapat didefinisikan sebagai mereka yang bepergian jauh dari rumah untuk bisnis, kesenangan, urusan pribadi atau tujuan lain (kecuali untuk pulang-pergi karena bekerja) dan yang menginap pada tujuan even (Masberg, 1998: 67).
B.     Potensi sumber daya wisata di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.



Berikut peta tempat-tempat wisata di kabupaten kulon progo Yogyakarta, yang dapat dikembangkan dan dimanage khususnya menjadi tempat pengembangan wisata olahraga, baik olahraga rekreasi, olahraga prestasi, dan olahraga industri.


 

Ada minimal 3 macam pengembangan olahraga yang bisa dilakukan untuk mengembangkan daya tarik wisata di objek wisata kabupaten kulon progo tersebut: 1) Olahraga prestasi, 2) Olahraga rekreasi, 3) Olahraga industri.
1.      Olahraga Prestasi
Dalam hal ini olahraga prestasi yang dimaksud adalah bagaimana kita harus memanage suatu even olahraga yang bisa dilaksanakan di objek wisata atau sekitarnya yang memungkinkan untuk diselenggarakan suatu even olahraga. misalkan di kawasan pantai, baik (pantai congot, glagah, trisik, waduk sermo, taman air ancol dan bugel) bisa diselenggarakan even seperti: a) sepakbola pasir, b) bolavoli pasir, dan c) silat pasir terutama di pantai glagah indah, begitu juga dengan even olahraga air, a) kanoe, b) perahu naga, c) motor cross, dll. Berikut gambar daerah kawasan wisata pantai glagah dan taman air ancol:
           







2.        Olahraga Rekreasi
Sedangkan dikawasan lain, misalkan di daerah pegunungan, seperti di pegunungan puncak suralaya, menoreh, gunung kelir, dan gunung kucir, bisa dimanfaatkan untuk penyelenggaraan even olahraga seperti: a) hash, b) mountain bike, dll. Pengoptimalan dan pengerahan massa bisa digunakan dalam penyelenggaraan even di kawasan ini, selain medannya bagus dan sangat cocok untuk even tersebut, manfaat yang diperoleh dari peserta juga sangat bisa dirasakan, tinggal bagaimana pemasaran atau marketing evennya, bisa lewat sekolah, kantor, dan juga dunia usaha, sehingga seluruh elemen masyarakat bisa tersentuh. Berikut gambar tempat wisata di kawasan pegunungan di kabupaten kulon progo:








 




























 
Untuk pengembangan olahraga rekreasi yang lain, beberapa tempat wisata di kabupaten kulon progo bisa dijadikan alternatif, misalkan di daerah pantai baik, bugel, trisik, dan juga congot, dimana ditempat tersebut bisa digunakan untuk kegiatan memancing. berikut gambar kegiatan memancing di kawasan pantai:



3.        Olahraga Industri
Untuk olahraga industri kawasan wisata yang memungkinkan dan banyak bisa digunakan untuk melakukan penjualan barang atau jasa dalam usaha di bidang olahraga, antara lain: pemandian clereng, desa kerajinan sentolo, dan pantai glagah. Sungai Progo sebelah atas bagi penggemar olahraga minat khusus terutama rafting dan kayaking merupakan spot yg potensial dan menantang untuk dicoba. Banyaknya jeram dengan berbagai variasi tingkat kesulitan menjadikan Sungai progo atas sebagai spot yg wajib diarungi oleh penghoby. dengan panjang pengarungan sekitar 12 km bisa ditempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Indahnya pemandangan di kiri dan kanan sungai serta ada air terjun yang masih alami menjadikan pengarungan lebih berkesan. Beberapa usaha seperti barang atau alat olahraga bisa dijual di kawasan wisata tersebut, baik berupa perlengakapan renang, dan juga alat-alat olahraga yang lain-lainnya.  






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Industri olahraga adalah “setiap produk, barang, servis, tempat, orang-orang dengan pemikiran yang ditawarkan pada publik berkaitan dengan olahraga.
2.      Beberapa permasalahan industri olahraga; a) Masalah permodalan, b) Lemah dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar, c) Keterbatasan pemanfaatan dan penguasaan teknologi. d) Masalah strategi pemasaran produk merupakan salah satu kendala besar bagi industri olahraga yang kecil untuk masuk pasar bebas, e) Lemah dalam jaringan usaha dan kerja sama usaha.
3.      Terdapat tiga segmen industri olahraga yaitu: a) Sport performance, b) Sport Production, c) Sport Promotion.
4.      Re-orientasi program strategi industri olahraga:
a.       Pengembangan budaya olahraga.
b.      Persaingan olahraga regional dan internasional.
c.       Manajemen olahraga nasional.
d.      Sarana prasarana olahraga serta penerapan riset dan iptek.
e.       Sinkronisasi program antara; pemerintah, masyarakat, dan swasta.
f.       Peran perbankan dalam pengembangan industri olahraga.
5.      Pertumbuhan kegiatan olahraga yang menjadi dasar pendirian uasaha pariwisata, rekreasi dan olahraga sebagai bagian integral yang utama dari pengembangan pariwisata dan strategi pemasaran. Pertumbuhan pariwisata tergantung pada gelaran acara besar untuk kualitas manajemen dan pengetahuan manajer eksekutif. Seorang manajer even olahraga harus memiliki pelatihan yang lengkap di sektor pariwisata serta di sektor olahraga, dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
6.      Tempat wisata yang ada di kabupaten kulon progo diharapkan mampu bersaing dengan tempat wisata yang lain, oleh karena itu dengan managemen khususnya dalam bidang olahraga di kawasan wisata diharapkan mampu mengoptimalkan daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kerjasama yang sinergis antara pihak di kabupaten kulon progo, baik dinas pemuda dan olahraga, dinas pariwisata dan dinas lainnya hendaknya didukung oleh program pemerintah yang jelas dan support yang lebih dari masyarakat sekitar kulon progo untuk mengembangkan tujuan wisata dan olahraga di kabupaten ini.


DAFTAR PUSTAKA

Farida M. (2011). Pemberdayaan Industri Olahraga Dalam Menghadapi Pasar Bebas (Online), (http://staff. uny.ac.id/sites/default/files/131808341/Pro­ceeding%20SEMNAS-Pemberdayaan%20Industri%20Olahraga%20Dalam%20Menghadapi%20 Pasar%20Bebas.pdf, diakses 29 Desember 2013).
Ibnu. (2011). Visi, Misi, Sasaran dan Program Kadin Untuk Olahraga Nasional (online), (http://sport.ghiboo. com/visi-misi-sasaran-dan-program-kadin-un­tuk-olahraga-nasional, diakses 29 Desember 2013).
Getz, D. Special events. In Managing Tourism, ed S Mede­lik. pp. 67,123. Oxford: Butterworth-Heinemann, 1991.
Lampiran Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Masberg, BA. Defining the tourist: is it possible? Journal of Travel Research, vol. 37, p.p. 67-70, August 1998.
Nuryadi. 2010. Industri Olahraga (Sport Industry) (Online), (http://ebookbrowse.com/gdoc.php?id=36399 8434&url=4ad8305a5fa81d9f5811a731c2530ab2, diakses 29 Desember 2013).
Pemkab_Kulon_progo. (2013). Objek wisata di kabupaten kulon progo. http://www.kulonprogokab.go.id/v21/obyek-wisata_94_hal, di akses tangga 29 Desember 2013.
Parks & Recreation New Zealand. Running Sport: Event Management. (2002) (http://www.sparc.org.nz diakses 29 Desember 2013].
Pitts B.G, Fielding, L.W., and Miller (1994). Industry Seg­mentation Theory and Sport Industry. Developing a Spoort Industry Segmentation Model Sport Mar­keting Quarterly. 3. 1994. (Morgantown, WV: Tit­ness Information Technologi, Inc).
R. Dodd & A. Cassels, “Centennial Review: Health Devel­opment and the Millennium Development Goals” (2006) 100:5-6 Annals of Tropical Medicine & Parasi­tology at 379-387.